- Plato menggambarkan jiwa sebagai sesuatu yang memiliki bagian rasional yang seharusnya mengendalikan hasrat dan emosi.
- Aristoteles memetakan berbagai kemampuan jiwa dan membedakan kebijaksanaan teoretis dari kebijaksanaan praktis.
- Banyak kebudayaan kuno mengaitkan kecerdasan dengan kebijaksanaan, ingatan, dan pertimbangan yang baik, bukan dengan satu besaran yang dapat diukur.
- Pemikiran kuno membingkai kecerdasan sebagai akal budi dan kebijaksanaan β sebuah pengertian yang jauh lebih kaya daripada sekadar skor tes.
Bagaimana Plato memandang pikiran?
Plato menggambarkan jiwa sebagai sesuatu yang memiliki bagian rasional yang seharusnya mengendalikan hasrat dan emosi. Baginya, akal budi adalah kemampuan tertinggi manusia sekaligus jalan menuju kebenaran.
Apa yang ditambahkan Aristoteles?
Aristoteles memetakan berbagai kemampuan jiwa dan membedakan kebijaksanaan teoretis dari kebijaksanaan praktis. Ia menempatkan kemampuan bernalar dengan baik sebagai inti dari keutamaan manusia.
Adakah pandangan awal lainnya?
Banyak kebudayaan kuno mengaitkan kecerdasan dengan kebijaksanaan, ingatan, dan pertimbangan yang baik, bukan dengan satu besaran yang dapat diukur. Gagasan bahwa pikiran bisa dinyatakan dalam sebuah angka baru muncul jauh setelahnya.
Mengapa gagasan ini masih penting?
Pemikiran kuno membingkai kecerdasan sebagai akal budi dan kebijaksanaan β sebuah pengertian yang jauh lebih kaya daripada sekadar skor tes. Teori-teori modern pun kerap kembali pada gagasan ini.